joko widodo
Doakan Jokowi, Ibu-ibu Penuhi
Jalanan Kampung
Posted by Ridwan Garcia
SOLO,
suaramerdeka.com - Doa untuk pemenangan calon gubernur (cagub) DKI Jakarta Joko Widodo
(Jokowi) juga dilakukan di Jalan Kali Larangan, Kelurahan Jayengan, Kecamatan
Serengan, Rabu (19/9) pukul 20.00.
Berdasarkan
pengamatan Suara Merdeka sejak pukul 19.00, warga dari penjuru di Kota Bengawan
mulai memadati jalanan kampung itu. Terutama kalangan ibu-ibu. Tidak hanya
berpakaian putih-putih, warga yang datang juga memakai pakaian khas ala Jokowi,
kotak-kotak. Di tengah jalanan yang digelari karpet, poster besar cagub dan
cawagub Jokowi-Basuki Tjahja Purnama juga dipasang.
Adalah Hasih
(33), warga Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan itu, rela meluangkan
waktunya demi mengikuti doa bersama tersebut. Dia bahkan mengajak orangtuanya,
Ngadiyem (65) dan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar
menggunakan sepeda motor. “Biasanya kalau di rumah ya nyantai. Namun saya sudah
janji pada diri sendiri beberapa hari lalu saat dapat informasi lewat brosur,
akan datang. Karena saya bangga dipimpin Bapak Jokowi,” tutur ibu rumah tangga
itu.
Ngadiem
menambahkan, meskipun sebenarnya berat melepas Jokowi jika hari ini (20/9)
memenangi Pilgub DKI Jakarta. Namun dia yang sempat beberapa kali bertemu
dengan Jokowi saat mengunjungi warga di lingkungan rumahnya, bangga. Apalagi
sosok Jokowi adalah orang yang rendah hati dan rajin terjun ke masyarakat.
“Saya benar-benar tulus dan iklhas berdoa demi Pak Joko. Allah merestui langkah
beliau. Mari berdoa bersama-sama,” katanya sembari meneteskan air mata karena
terharu.
Tidak beda
jauh dengan Hj Arobiah (70) dan anaknya Rusmanina (49). Warga Kelurahan
Kratonan, Kecamatan Serengan itu sengaja bergabung bersama warga dari berbagai
daerah di Solo untuk mengikuti acara itu. Bahkan dia mengaku jauh-jauh hari,
saudaranya yang berada di Jakarta bertanya tentang sosok Jokowi memimpin Solo.
“Saya katakan beliau amanah dan dekat dengan rakyatnya. Jadi tidak ada alasan
selain ikut mendoakan beliau memanangi Pilkada hari ini,” terangnya bangga.
Dalam
kesempatannya, pemimpin doa dan pengisi tausiah ustadz KH Subhan S.Ag
berkali-kali menyakinkan pada warga. Bahwasannya doa adalah senjata yang sangat
ampuh. Tidak ada yang dapat menghalangi ketentuan Allah. Jika memang yang
ditakdirkan menahkodai warga Ibu Kota itu, Jokowi.
Sementara
itu, ketua pelaksana acara, Suryadi mengatakan, acara tersebut semata-mata
untuk membantu putra Kota Bengawan yang berkompetisi dalam Pilkada DKI Jakarta
hari ini. Dia melanjutkan, peserta doa bersama yang hadir tidak hanya dari
warga Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan. Namun dari warga dari empat
kecamatan lain di Solo.
JEJAK LANGKAH JOKOWI
Joko Widodo atau yang biasa dipanggil Jokowi memang istimewa. Ia hanya seorang pemimpin daerah. Namun, prestasinya luar biasa. Jokowi memimpin dengan keteladanan. Sebuah sikap yang kini jarang dimiliki oleh pemimpin nasional. Ia banyak mendengar dan bekerja nyata untuk rakyatnya. Ia bukan tipe pemimpin yang hanya duduk manis di belakang meja sembari mengucap mantra kesejahteraan yang tidak pernah terwujud. Ia pun keluar masuk pasar tradisional. Memastikan apakah denyut usaha kecil tersebut tetap tumbuh dan berkembang di Kota Solo.Ia pun menata pedagang kaki lima (PKL). PKL baginya merupakan berkah alam. Mereka merupakan aset ekonomi. Maka ia mengelola PKL dan memberi tempat berdagang. Proses pemindahan mereka pun sesuai dengan fitrah kemanusiaan (manusiawi). PKL diajak urun rembug tentang masa depan kota dan masa depan pedagang. Hasilnya, tanpa palu dan kekerasan PKL tertata dengan rapi dan menjadi aset terbesar bagi Kota Solo.
Pengusaha mebel ini pun menginisiasi mimpi adanya mobil nasional. Walaupun bukan program baru (karena sudah diretas di Era Orde Baru), Jokowi kembali memberi teladan kepada pejabat di seluruh Indonesia untuk menggunakan mobil karya anak bangsa. Mobil berjuluk Kiat Esemka, walaupun tidak lolos uji emisi Kementerian Perhubungan telah menjadi penanda bagi zaman bahwa tunas muda Indonesia mempunyai kemampuan untuk menciptakan sebuah inovasi teknologi.
Mungkin lebih banyak lagi prestasi yang telah ditorehkan oleh Jokowi. Namun, ia tetap santun. Ia tidak menjadi sombong karena prestasi yang telah ia torehkan. Ia tetap mengaku bodoh, tidak mempunyai tampang menjadi pemimpin. Namun, di tengah kesajahaannya, ia merupakan pemimpin inspiratif bagi bangsa Indonesia.
Keajaiban
Buku karya Zaenuddin HM, Jokowi, dari Jualan Kursi hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi ini setidaknya mengumpulkan serpihan dari segudang prestasi Jokowi. Jurnalis senior Rakyat Merdeka ini dengan gaya jurnalistik yang renyah menyuguhkan sosok Jokowi yang apa adanya. Kaya prestasi namun tetap bersahaja.
Kiprah kepemimpinan Jokowi dimulai ketika ia prihatin dengan keadaan kota kelahirannya, Solo, yang dirasakannya berhenti di tempat. “Saya melihat kok tidak semakin baik, tapi malah semakin turun dan semakin tidak baik. Saya merasa tergelitik. Saya pikir, mengelola sebuah kota apa sulitnya sih?” tutur Jokowi. Karena itulah ia merasa tertantang untuk membenahi kota Solo. Untuk itu ia harus mau memimpin atau menjadi walikota, dan itu pun harus bertarung dulu dengan calon-calon lain lewat pilkada.
Pada pilkada 2005, Jokowi berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo yang diusung oleh PDI Perjuangan.
Jokowi seakan mendapatkan suatu keajaiban dalam hidupnya: “dari jualan kursi (mebel) hingga mendapat kursi walikota”. Padahal ketika dicalonkan, banyak kalangan meragukan dirinya akan menang pilkada. Bahkan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri konon sempat kaget ketika tahu dan melihat calon yang diusung PDIP adalah Jokowi.
Buku ini seakan mewartakan bahwa persona Jokowi telah menyihir masyarakat, Ia tampil ke pentas publik di tengah kegalauan masyarakat. Rasa rindu masyarakat akan sosok pemimpin penuh karya. Jokowi bak oase di tengah padang pasir. Kehadirannya mampu mengobati rasa dahaga masyarakat.
Pada akhirnya, buku ini menjadi semacam jejak langkah besar Jokowi yang dapat menginspirasi pemimpin lain untuk berbuat, bertindak, dan berkidmat kepada kesejahteraan masyarakat luas. Semoga melalui buku ini, muncul Jokowi-Jokowi lain di seluruh penjuru Nusantara. Selamat membaca.
Kisah Hidup Jokowi
Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.
Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi kegembiraannya.
Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.
Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu biaya kost dan mencari yang lebih murah.
Hidup dengan prihatin membawanya pada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi, disinilah Jokowi belajar untuk rendah hati.
Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel. Disini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya bapaknya ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil, ia bukan saja tapi ia juga pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil dari sebuah bengkel mebel dengan gedek disamping pasar yang kumuh berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan.
Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : “Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich” akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu.
Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerna ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa.
Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.
Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.
Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.
Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.
Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”.
Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan”
Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.
JOKOWI Harapan Baru Indonesia
Ditengah krisis kepercayaan dan krisis kepemimpinan yang melanda negeri ini, hadir sosok low profile yang mampu mengubah pandangan masyarakat tentang seorang pemimpin pemerintahan indonesia, bukan bermaksud bantu promosi bukan juga bermaksud bantu kampanye, saya hanya mau meyampaikan bentuk kekaguman saya terhadap beliau.JOKOWI atau nama lengkapnya Joko Widodo ini Mulai dikenal publik sejak iya menjabat sebagai walikota solo iya banyak membuat gebrakan perubahan untuk kota solo diantaranya dengan merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari dia melakukan hal itu dengan hampir tanpa gejolak dan persengketaan untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka,
memberi syarat pada investor yang masuk solo untuk mau memikirkan kepentingan publik dan rakyatnya, dan melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka ke lapangan. iya mulai sering muncul di TV ketika beliau mengawal esemka untuk bisa di produksi secara masal di indonesia meskipun hal itu gagal karena Mobil tidak sanggup lolos pada uji emisi.
Tahun ini dia mencalonkan diri sebagai gubernur DKI jakarta, dengan jargonnya “Jakarta Baru” banyak yang meragukan kemampuannya karena statusnya sebagai pendatang yang belum banyak tahu kondisi lapangan jakarta, tapi masyarakat yang menaruh kepercayaan padanya karena sikapnya yang sederhana dan terkesan lebih tulus untuk membuat perubahan. Dirinya masuk dalam nominasi sebagai wali kota terbaik dunia versi City Mayors Foundation Dalam daftar yang dirilis 1 April 2012 di situs web-nya worldmayor.com , ini sangat membanggakan indonesia ketika kita sedang sulit untuk mempercayai pemimpin kita tiba-tiba hadir seorang jokowi yang mampu mengambil hati publik indonesia bahkan dunia. semoga sikap dan jiwa kepemimpinan yang baik ini konsisten dan bisa memberi contoh kepada para pemimpin lain untuk tulus memimpin dan membangun negeri ini tanpa ada embel-embel untuk memperkaya diri.
Jokowi Muda Murid Berprestasi Berambut Gondrong
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Wali Kota Solo, Joko “Jokowi” Widodo memang eksentrik, meski umurnya tidak tergolong muda, ia tak sungkan untuk mengakui, menggandrungi musik metal seperti yang dimainkan oleh Lamb of God maupun Sepultura.Dalam buku “JOKOWI, Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker,” yang ditulis oleh Yon Thayrun, Jokowi menceritakan bahwa kecintaannya terhadap musik cadas diawal saat ia menginjak masa remaja, ketika ia kerap pulang dan pergi dari sekolah dengan berjalan kaki.
Diceritrakan, jalur Jokowi pulang dari sekolah melewati lokasi latihan band Trencem, salah satu pelopor musik cadas di tanah air, yang mulai dikenal masyarakat sejak 1969 lalu.
Sama seperti warga pada umumnya, Jokowi pun terpancing perhatiannya, saat ia mendengarkan sekelompok anak muda berpenampilan urakan, membawakan lagi dengan kerasnya. Jokowi muda pun langsung jatuh cinta.
Band yang sempat menjadi tempat bernaung Setiawan Djodi itu, membuat Jokowi kerap bertingkah aneh di rumahnya. Mulai dari meloncat-loncat, hingga berteriak sendirian di kamar. Tak lupa juga memasang poster artis idola, yang berpenampilan Bohemian, salah satunya adalah John Bonham, drumer band legendaris “Led Zappelin,”
“Musik rock adalah kebebasan, liriknya liar, tegas, semangat dan mampu mendobrak perubahan,” katanya.
Kecintaannya terhadap musik rock, membuat Jokowi nekat untuk memelihara rambut panjang, saat ia menduduki bangku SMA di SMA 6 Surakarta. Tak ayal lagi hal itu membuat para guru menggelengkan kepalanya.
Kepada penulis, Jokowi mengaku bahwa ia saat itu berpendapat bahwa rocker harus berambut panjang, untuk mengekspresikan rasa batinnya. Namun demikian, hal itu tidak membuat prestasi Jokowi terpuruk, toh ia masih mampu menyabet status sebagai murid berprestasi.
Walikota Solo Joko “Jokowi” Widodo, Manusia Langka di Indonesia
Sebenarnya saya malu mengatakan ini kepada Ibu-Ibu tapi karena ada yang bertanya tentang kebenaran bahwa saya tidak pernah mengambil gaji sejak saya menjabat Walikota Solo itu benar adanya, saya hanya menandatanganinya saja, dan untuk uangnya disumbangkan kepada yang memerlukan pertolongan untuk kesejahteraan mereka demikian sekilas jawaban Jokowi disebuah acara dalam rangka clean goverment di Jakarta.Selain itu untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan kota solo, bila saya mempunyai program pembangunan kota , saya lebih dahulu menuliskannya di koran wilayah untuk mendapatkan opini maupun tanggapan masyarakat, setelah itu baru kita rencanakan apakah dilakukan atau tidak, hal ini bagi saya lebih utama, dari pada mengajukan langsung kepada Dewan perwakilan rakyat daerah, sebab saya tidak pintar melakukan deal-deal dan nantinya akan tersangkut hukum dan lainnya.
Joko Widodo”Jokowi, telah menjabat Walikota Solo sejak tahun 2005 yang lalu, dan baru saja terpilih untuk periode kedua bersamaFX Hady Rudyatmo, jauh sebelum Joko terpilih sebagai Walikota, dia sudah mengalami kesuksesan dalam dunia bisnis lewat usaha mebel dan pertamanan yang sudah go International dimana usaha atau bisnis ini dikelola bersama sang istri hingga hari ini.
Gaji bulanan sebagai Walikota sebesar Rp 6.5 Juta ditambah dengan fasilitas membuat orang-orang berduit mencalonkan diri menjadi Walikota maupun pejabat pemerintahan, dan berusaha semaksimal mungkin untuk menggunakan fasilitas dan koneksi yang ada untuk memperkaya diri dan kroninya sehingga banyak yang berakhir dipenjara, dari hal ini Jokowi mengambil hikmah bahwa untuk menjadi pemimpin rakyat harus melawan arus agar di Indonesia khususnya di Kota Solo ada Walikota langka, dan kini Jokowi menjadi sumber inspirasi bagi Masyarakat Solo, tanah Air bahkan Internasional lewat kunjungan pemerintahan Vietnam maupun Laos sebagai kota kembar antar negara.
Solo memang kota kosmopolitan, walau cuma sebuah keresidenan saat ini Kota madya, namun nama Solo sangat terkenal dengan istilah Putri Solo, Bengawan Solo hingga Solo berseri, perusahaan Batik ternama ada dikota ini, dan Mantan Ibu Negara Indonesia Bu Tien berasal dari Solo trah Putri Mangkunageraan, dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat nama kota Solo akrab ditelinga masyarakat.
Jokowi kini membawa perubahan gaya kepemimpinan kaum birokrat, walau hanya Walikota, namun sifat kepemimpinannya dan keterbukaan serta progam pengembangan kota solo menjadi kota budaya dan kota pendidikan membawa nama Jokowi menjadi bahan perbincangan orang di Tanah Air sebagai manusia langka.
siapa jokowi
Ir. Joko Widodo (lahir di Surakarta, 21 Juni 1961; umur 50 tahun)[1], lebih dikenal dengan nama julukan JokoWi, adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bakti 2005-2015. Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo. Ia dicalonkan oleh PDI-P[2]. Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985.[1] Ketika mencalonkan diri sebagai walikota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih.[3] Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya.Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui slogan Kota Solo yaitu “Solo: The Spirit of Java”. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat.
Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″. Ia pun akan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012 dengan Basuki Tjahaja Purnama, mantan bupati Kabupaten Belitung Timur.
Menjadi Walikota Dengan Niat Yang Mulia. Biasa saja. Saya pikir tidak ada yang perlu disikapi berlebihan dengan jabatan yang saya pegang sekarang ini. Yang jelas, tanggung jawab saya sekarang menjadi sangat berat. Karena saya mengemban amanah dari masyarakat Solo untuk memimpin mereka menuju Solo yang lebih baik, maju dan mensejahterahkan seluruh lapisan masyarakat. Amanah itu saya terima dengan senang hati dan dengan penuh tanggung jawab.
Demikian kalimat-kalimat bernada filosofis tinggi yang meluncur dari mulut Ir. H. Joko Widodo ketika menjawab pertanyaan Kabar UGM, tentang kesannya sebagai Walikota Solo. Ungkapan tersebut menggambarkan secara plastis kerendahatian sang walikota, yang lebih popular disebut Pak Jokowi. Kerendahatian Pak Jokowi, ternyata, bukan hanya sekadar rangkaian kata-kata saja. Ia bisa dirasakan juga oleh rakyat kecil. Dengarlah komentar para tukang becak di pinggir jalan utama kota Solo. Pak Jokowi sangat dekat dengan masyarakat Solo lapis bawah. Dia sangat lekat di hati masyarakat Solo, ujar seorang tukang becak. Bagi masyarakat Solo, Pak Jokowi adalah seorang pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan mereka.
Mereka menemukan keperibadian yang sangat menarik pada diri Pak Jokowi: mau merangkul mereka membangun Solo. Lebih dari itu, mereka sering kali menerima sembako gratis dari Pak Jokowi. Sebelum menjadi walikota, Pak Jokowi dikenal sebagai seorang pengusaha yang bergerak di bidang mebel. Saya eksportir mebel. Aktivitas saya yang lain ya,berorganisasi. Terakhir saya adalah ketua ASMINDO Surakarta, ujar laki-laki kelahiran 21 Juni 1961 ini. *** Pak Jokowi adalah lulusan Fakultas Kehutanan UGM tahun 1985.
Dia masuk ke Fakultas Kehutanan UGM bertolak dari keinginannya sendiri untuk menjadi tukang kayu. Kebetulan orangtuanya menekuni bisnis perkayuan, Orangtua saya tukang kayu, sehingga ada bau-bau kayunya, kata Pak Jokowi tersenyum. Saat menjadi mahasiswa, Jokowi muda sudah belajar hidup prihatin. Prinsip hidup ini menjadi pengalaman berharga buat dirinya dalam berwirausaha, Saya kuliah ketika kemampuan ekonomi orangtua tidak hanya terbatas tetapi minus.
Karena itu, saya memacu diri supaya tetap bersemangat belajar dan cepat lulus. Maklum, kalau kuliah semakin lama ongkos yang dikeluarkan kan semakin banyak. Kuliah di kehutanan UGM bagi saya sesuatu yang menyenangkan, mengingat saya memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang turun temurun menggeluti perkayuan.
Dukanya ya, sebagai mahasiswa yang ekonominya minus, saya harus berhitung betul soal pengeluaran. Kalau ingin apa ya harus mikir bener karena keterbatasan yang ada. Tetapi, ternyata kebiasaan kuliah itu sangat bermanfaat ketika saya sudah menggeluti dunia bisnis, kata eksportir mebel ini. Melihat posisi Pak Jokowi sekarang, bisa saja kita berpikir bahwa sewaktu kuliah dulu Pak Jokowi menjadi aktivis mahasiswa. Bukankah sudah jamak bahwa mahasiswa yang pernah menjadi aktivis ketika kuliah terjun ke dunia politik? Ternyata perkiraan kita keliru. Semasa kuliah dulu, Pak Jokowi lebih senang ikut kegiatan-kegiatan minat dan bakat seperti naik gunung dan sebagainya. Kegiatan mahasiswa saya naik gunung, main basket dan camping, ujar lulusan SDN 111 Tirtoyoso Solo ini. Setelah menjadi Sarjana Kehutanan UGM, Pak Jokowi tidak langsung bekerja di Solo.
Dia merantau dulu ke Aceh. Setelah lulus dari Fakultas Kehutanan UGM saya bekerja di sebuah BUMN di Aceh. Kemudian saya kembali ke Solo dan bekerja di CV. Roda Jati, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan. Sekitar tahun 1998, saya kemudian berusaha secara mandiri di bidang permebelan, khususnya sebagai eksportir. Alhamdulillah, setelah mengalami jatuh bangun di sana, bisnis yang saya tekuni ini mampu memberi kehidupan bagi saya dan keluarga, kata suami Iriana ini. *** Sekalipun Pak Jokowi tidak pernah menjadi aktivis mahasiswa sewaktu menjadi mahasiswa dulu, tidak berarti dia buta politik.
Dia juga bukan menabukan dirinya mengikuti politik praktis. Dia malah bersedia terjun ke dunia politik praktis. Semua orang bisa saja terjun ke dunia politik. Saya memang ikut berpartisipasi dalam proses pilkada di Surakarta, karena ada permintaan-permintaan serius dari elemen dan komponen masyarakat. Untuk menjadi wali kota, memang saya harus punya partai yang membawa saya, tutur lulusan SMPN 1 Solo ini. Lalu, apa yang mendorong Pak Jokowi mencalonkan dirinya jadi Walikota Solo? Sebagai alumnus Fakultas Kehutanan UGM yang bergerak ke bidang politik, memang saya punya obsesi dan alasan. Pertama, saya sangat serius untuk maju.
Saya ingin mengakomodasikan aspirasi-aspirasi serius yang muncul dari banyak pihak, baik secara pribadi maupun secara kelompok atau organisasi. Yang kedua, saya ingin bersama-sama seluruh komponen masyarakat membawa Solo ke arah yang lebih baik, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Yang ketiga, saya ingin pemerintahan ini diurus secara clean, jernih, tegas dan tanpa kompromi, sehingga good governance dan clean goverment benar-benar terwujud, tambah lulusan SMAN 6 Solo ini. Setelah menjadi walikota, Pak Jokowi menyadari bahwa banyak kalangan masyarakat yang kesulitan ekonomi akibat krisis moneter yang tak kunjung selesai ditambah kenaikan harga kebutuhan pokok akibat kenaikan harga BBM.
Dia pun langsung bertekad mengantisipasi keadaan ini. Dia segera berusaha mensejahterakan masyarakat Solo yang dipimpinnya, Saya kira di tempat kita (Solo-red), yang jelas kita berusaha bagaimana menarik investasi yang sebesar-besarnya dalam rangka memberikan lapangan pekerjaan seluas-luasnya pada masyarakat. Caranya dengan pemberian layanan perizinan.
Bila dulu, perizinan akan keluar selama kurang lebih 6 bulan, sekarang ini urusan perizinan bisa selesai dalam tempo 4-6 hari. Ini terobosan yang kita lakukan, kata bapak dari Gibran Rakabumi Raka, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep ini. *** Sampai sekarang, sudah 21 tahun Pak Jokowi meninggalkan kampus biru. Selama itu, dia tidak tahu banyak perkembangan yang terjadi di UGM. Dia juga tidak tahu kalau almamaternya telah menjadi PT. BHMN, Terus terang saya kurang mengikuti perkembangan ketika UGM menjadi PT. BHMN. Menurut saya, apapun statusnya, yang penting di era globalisasi seperti saat ini, UGM selain harus mampu mengikuti trend sebagai sebuah perguruan tinggi yang mampu bersaing di tingkat global, juga jangan sampai meninggalkan roh-nya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi kerakyatan.
Karena orientasi inilah dulu UGM kerap disebut dengan istilah universitas ndeso. Orientasi itulah yang membuat UGM dan lulusannya bisa mengakar dan selalu nyambung dengan persoalan-persoalan kerakyatan. Sesuatu yang saya kira telah membuat nama UGM disegani hingga kini, ungkap Pak Jokowi. Mungkin karena rasa cintanya pada UGM, Pak Jokowi kemudian mengusulkan agar UGM menjadi entrepreneurship university. Selain itu UGM harus mulai dikembangkan kearah Entrepreneurship University, dimana mahasiswa yang lulus dari UGM tidak lagi mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, tambahnya. Akhirnya, Pak Jokowi berpesan kepada mahasiswa UGM, agar mereka menyiapkan pengetahuan yang banyak dan mental yang kuat selama belajar di UGM.
Tantangan yang dihadapi adik-adik saya para mahasiswa di masa depan bakal lebih berat dibandingkan tantangan generasi saya dulu. Karena itu, tidak ada kata lain kecuali menyiapkan pengetahuan, keterampilan, mental dan semangat juang yang prima untuk bisa menghadapi tantangan tersebut, tambahnya (wawancara dan penulisan: Gusti Grehenson; editing: Abrar). .Kisah Hidup Jokowi Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai.
Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya. Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia. Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu.
Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi kegembiraannya. Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu. Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan.
Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu biaya kost dan mencari yang lebih murah. Hidup dengan prihatin membawanya pada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi, disinilah Jokowi belajar untuk rendah hati.
Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel. Disini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya bapaknya ia jaminkan ke Bank.
Dan ia berhasil, ia bukan saja tapi ia juga pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil dari sebuah bengkel mebel dengan gedek disamping pasar yang kumuh berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan. Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : “Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich” akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu. Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerna ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja.
Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa. Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”.
Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo. Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya. Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis. Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun.
Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat. Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”.
Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan” Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.
Pemimpin yg Amanah
Meski tidak sebagaimana pemimpin Muslim lainnya yang saat pidato kerap mengutip kitab suci meski prakteknya “biasa-biasa saja”, Jokowi dalam ibadah rutin pun seperti shalat bahkan justru lebih disiplin daripada kebanyakan politisi muslim lainya.Jokowi: Pemimpin yang Humanis dan Berprestasi – Agar Indonesia makmur, butuh pemimpin yang amanah dan peduli pada rakyatnya.Salah satu pemimpin yang Amanah dan Peduli rakyatnya adalah jokowi.Ada pun kita bisa mendukungnya dengan mempromosikan di milis-milis dan blog yang kita miliki jika perlu membuat dan memasang spanduk agar rakyat tidak salah pilih dan didapat pemimpin yang amanah.
Jarang-jarang ada pemimpin di Indonesia yang bagus dan humanis. Oleh karena itu saya tampilkan Jokowi yang mampu memindahkan pedagang kaki lima di Solo tanpa harus menggusur mereka. Jokowi dengan cerdas mengatasi masalah dengan Win-Win Solution.
Contohnya agar mau dipindahkan, Jokowi mengajak para pedagang itu makan-makan setiap minggu. Pada acara makan ke 54, baru dia berani menyatakan bahwa dia akan memindahkan para pedagang.
Apa Jokowi mampu menjamin bahwa di tempat baru tidak akan sepi? Kata para pedagang. Jokowi tidak berani menjamin. Tapi dia mempromosikan pasar baru itu di TV Lokal Solo selama berbulan-bulan.
Para pedagang ingin toko baru mereka gratis. Namun DPRD keberatan. Jokowi mengatasinya dengan memberi gratis, tapi para pedagang membayar biaya retribusi Rp 2.600/hari di mana dalam waktu 8,5 tahun biaya Rp 9,8 milyar untuk relokasi akan kembali.
Selain itu, tidak seperti pemimpin lain yang mengeluh soal gaji atau minta naik gaji, dia tidak pernah mengambil gajinya. Usaha Mebelnya yang sudah ada sebelum jadi walikota sudah cukup untuk menghidupinya.
Saat pengelola Railbus minta tarif Rp 5.000, dia menolak dan minta agar tarif cuma Rp 3.000. Siapa yg mau naik jika tarifnya Rp 5000? Katanya.
Saat ada sekolah dasar negeri yang memungut uang masuk sampai Rp 1,5 juta, begitu dapat laporan dari orang tua murid, Jokowi langsung datang seorang diri naik motor dengan pakaian biasa ke sekolah itu. Setelah itu, tak ada lagi pungutan. Jokowi rupanya mengancam jika sampai ada pungutan, kepala sekolahnya akan diganti detik itu juga.
Jokowi juga berani menentang Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, yang ingin menggusur bangunan bersejarah Solo untuk dijadikan Mal. Saat Bibit marah dan memakinya sebagai bodoh, Jokowi dengan rendah hati berkata bahwa dia memang bodoh dan dia heran kenapa warga Solo memilih dia yang bodoh sebagai walikota selama 2 periode.
Sebagai pengusaha, beda dengan para bos/pimpinan lain yang suka menindas anak buahnya secara semena-mena, Jokowi memperlakukannya dengan manusiawi. seperti penuturan anak buahnya “saya pernah lama tinggal di solo; pernah mengerjakan pekerjaan kecil untuk perusahaan pak jokowi. walaupun saya jauh lebih muda, pak jokowi memperlakukan saya seperti seorang teman; saya jadi tidak merasa sedang berhadapan dengan seorang walikota & juga pemilik perusahaan tersebut, sehingga merasa nyaman saat menemui beliau. demikian juga waktu mengerjakan pekerjaan kecil di salah satu dinas di pemkot surakarta, beliau sendiri mengikuti perkembangannya dengan saya memberi report langsung ke beliau. saya kira ini salah satu kontributor keberhasilan pak jokowi, beliau tidak menganggap kecil proyek apapun di lingkungan pemkot, sehingga laporan tidak hanya dari pejabat terkait yang mungkin bisa abs.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8]: 27).
Ayat ini menegaskan syariat luhur bernama amanah. Berasal dari kata amuna, ya’munu, amanatan, amanah berarti jujur dan dapat dipercaya. Berkembang menjadi kata aminah yang berarti aman tenteram. Lalu muncul derivasi lain, ‘aamanah’, artinya ‘saling percaya’.
Menjaga Amanah dalam Islam
Dari gramatikal amanah ini lahir pemahaman bahwa kejujuran akan memberi rasa aman bagi semua pihak sehingga lahir rasa saling percaya. Saat seseorang memelihara amanah sama halnya dengan menjaga harga dirinya, sekaligus sebagai satu rumpun kata dan makna dengan ‘iman’. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada iman bagi yang tidak amanah (tidak jujur dan tak bisa dipercaya), dan tidak ada dien bagi yang tidak menepati janji.” (HR Baihaqi).
Di antara indikator seseorang yang sukses dalam hidup adalah ketika dia mampu menjaga harkat dan martabat dirinya. Dan itu artinya ia cerdas mengelola amanah. Ia jujur dengan kata hatinya. Apa yang ada di hati ia ucapkan. Dan apa yang diucapkan, sudah ia pikirkan dan istiqamah untuk diamalkan. “Jika engkau miliki empat hal, engkau tidak akan rugi dalam urusan dunia: menjaga amanah, jujur dalam berkata, berakhlak baik, dan menjaga harga diri dalam (usaha, bekerja) mencari makan.” (HR Ahmad).
Terkait dengan kebutuhan dunia yang serbamateri, agama kita tidak mengenal konsep “sense of material belonging”, rasa memiliki dunia atau materi. Islam mendidik umatnya untuk memiliki “sense to be entrusted”. rasa diamanahi. Semua materi yang ada pada dirinya bukan sama sekali miliknya, tapi titipan dan amanah dari Allah untuk dijaga. Karena, siapa pun yang mencoba mengakui milik-Nya akan berakhir mengenaskan. Cukuplah Firaun dan Qarun menjadi pelajaran buat kita.
Menjaga amanah memang berat, bahkan mahaberat. Makhluk langit, bumi, dan gunung pernah ditawari untuk mengemban amanah-Nya, tapi semua menolaknya. Semua makhluk Allah yang notabene jauh lebih besar dari makhluk manusia ini merasa berat dan sangat khawatir kalau nanti tidak akan kuat mengembannya. (QS al-Ahzab [33]: 72). Hanya manusia, yang sok merasa sanggup dan kuat mengemban amanah-Nya. Meski tidak sedikit yang lulus dan sanggup mengemban amanah-Nya seperti para nabi dan rasul dan orang-orang saleh yang telah dipilih oleh Allah.
Lalu, bagaimana kita bisa menjaga amanah? Laa mulkiyyah, we have but nothing. Sepertinya kita punya, tapi sebenarnya tidak punya apa apa. Tugas hidup ini mengakui semua mililk-Nya, lalu menggunakannya di jalan Allah dengan rasa syukur dan rendah hati (QS Ibrahim [14]: 7).
Sesungguhnya kita mengetahui bahwa segala bentuk penyelewengan yang dilakukan akhir-akhir ini, disebabkan rendahnya komitmen untuk menjaga amanah. Padahal, menjaga amanah itu bagian penting di dalam kehidupan ini. Andai kata negara ini dikelola dengan amanah, maka kesejahteraan masyarakatnya tentu sudah jauh lebih baik dari sekarang ini.
Dalam interaksi sosial, orang sering terlibat dengan orang lain dalam berbagai bentuk transaksi antar individu atau kelompok. Ada hubungan pinjam meminjam barang, penitipan, utang piutang, penunjukan jabatan dan lain-lain. Dari urusan paling kecil terkait antara dua orang, sampai urusan sebuah organisasi dan perusahaan hingga urusan paling besar yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dan bangsa. Jika interaksi itu dibangun di atas prinsip dan transaksi yang benar maka selamatlah individu, kelompok masyarakat, perusahaan dan negara tersebut. Namun jika tidak, kehancuran, keretakan hubungan akan mengancam hubungan sosial.
Ajaran amanah dalam Islam terkait dalam dua dimensi hubungan. Dimensi hubungannya sebagai individu dengan sang Khaliq dan dimensi social terkait dengan orang lain. Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa hidup ini adalah amanah, karunia kesehatan adalah amanah, anak, istri dan semua beban di pundak kita adalah amanah yang haknya harus ditunaikan sebaik-baiknya. Semua itu adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tunaikanlah amanah pada orang yang memberikan amanah itu kepadamu, dan jangan kau khianati orang yang pernah mengkhianatimu.” (HR. Al-Imam Ahmad dan Ahlus Sunan). Artinya, jangan bermuamalah dengan orang yang berkhianat itu sebagaimana dia bermuamalah denganmu, dan jangan membalas perbuatan khianatnya dengan perbuatan khianatmu. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/400) (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 240).
Hadits ini umum, meliputi amanah-amanah yang wajib ditunaikan oleh setiap orang berupa hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti shalat, zakat, puasa, kaffarah, nadzar, dan yang lainnya, yang dia diberi beban untuk menunaikannya dan tidak perlu dilihat oleh hambahamba yang lain, maupun amanah berupa hak-hak hamba yang harus ditunaikan oleh sebagian mereka pada sebagian yang lain, seperti barang titipan dan yang lainnya yang diamanahkan oleh orang lain tanpa pengawasan secara terang-terangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menunaikan itu semua. Siapa yang tidak melaksanakannya di dunia ini, akan diberikan hukuman di akhirat nanti.
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bahkan nilai seseorang itu ditentukan oleh tingkat amanah seseorang. Semakin tinggi tingkat amanahnya, maka nilai dirinya di hadapan Allah. Sebaliknya semakin rendah amanah seseorang maka ia tidak bernilai di mata Allah dan dalam Islam. Prinsip ini diterapkan dalam seluruh aturan syariat Islam. Ketika menjelaskan kenapa seseorang harus dipotong tangannya hanya karena mencuri 4 dirham, seorang ulama menjelaskan rahasia syariat itu dengan ucapan hikmah: “Jika tangan itu amanah maka ia mahal dan jika berkhianat maka ia hina (tidak berharga)” Artinya tangan yang tidak amanah hanya dinilai dengan 4 dirham atau senilai 200 ribu. Sebaliknya jika jari kelingking yang dipotong orang tanpa alasan yang benar, maka diyatnya (denda) adalah 100 ekor unta.
Dalam hal ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin – rahimahullahu – mengatakan, “Menunaikan amanah termasuk tanda keimanan seseorang. Karena itu, jika kau dapati seseorang memiliki sifat amanah dalam segala sesuatu yang diamanahkan kepadanya, menunaikannya sesempurna mungkin, ketahuilah bahwa dia seorang yang kuat imannya. Dan jika kau dapati seseorang bersifat khianat, ketahuilah bahwa dia lemah imannya.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/731).
Amanah yang dibebankan Allah kepada hambanya itu bermacam-macam. Di sini amanah sinonim dengan kewajiban dan beban seorang pribadi. Secara umum amanah itu dibagi menjadi dua; amanah individu dan social. Amanah bersifat individu misalnya amanah fitrah. Dimana Allah menjadikan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan. Tugas manusia adalah menjaga dan melestarikan fitrahnya agar senantiasa selaras dengan syariat Allah dan waspada terhadap dorongan hawa nafsu agar tidak menyimpang. (Al-A’raf: 172). Amanah individu lainnya, adalah amanah taklif syar’i, dimana setiap hamba yang sudah memenuhi syarat tertentu dibebankan menunaikan kewajiban syariat Allah.
Selain itu amanah individu ada amanah tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama). Di satu sisi ini bertujuan menjaga agama itu sendiri dari campur tangan manusia. Di sisi lain ia sebagai rujukan manusia dalam urusan agama. “Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (At-Taubah: 122).
Sementara amanah bersifat sosial adalah amanah dakwah, dimana setiap Muslim berkewajiban menyampaikan Islam kepada masyarakat. Tujuannya adalah membangun masyarat Muslim sesuai dengan aturan Allah. Sehingga ia mampu menunaikan amanah lebih besar yakni amanah untuk mengukuhkan kalimatullah di muka bumi. Tujuannya agar manusia tunduk hanya kepada Allah swt. Dalam segala aspek kehidupannya.
Menyerahkan Urusan Kepada Yang Tidak Amanah
Menunaikan amanah bukanlah pekerjaan ringan. Bahkan langit, bumi dan gunung tidak mampu mengembannya. “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.” QS. Al Ahzab: 72.
Manusia diberi beban amanah karena ia memiliki kemampuan berbeda dengan bendabenda padat. Manusia memiliki hati dan akal pikiran, keimanan, perasaan kasih sayang, empati kepada sesama yang mendukungnya menunaikan amanah.
Amanah itu menentukan nasib sebuah bangsa. Jika setiap orang menjalankan tugasnya dengan penuh amanah dan tanggung jawab maka selamatlah mereka. Sebaliknya jika diselewengkan maka hancurlah sebuah bangsa. Sehingga Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, “Bila amanah disiasiakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyianyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).
Namun demikian amanah itu memiliki tingakatan dan kadar berat ringannya. Beratnya amanah dipengaruhi oleh faktor kapabilitas dan ruang lingkup dan cakupan penunaiannya. Semakin tinggi kapabilitas seseorang, maka ia amanahnya semakin berat. Semakin tinggi jabatan seseorang dan semakin luas ruang lingkup tugasnya maka semakin berat pula amanahnya. Di sini bisa katakan bahwa amanah kepemimpinan adalah paling berat. Tak heran bila ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan amanah seperti di atas lebih ditujukan kepada para pemimpin, pejabat publik, dan penegak hukum. Karenanya, Islam memiliki perhatian besar terhadap masalah yang satu ini.
Karenanya, para ulama yang memiliki perhatian besar terhadap kepemimpinan dan politik Islam rata-rata memiliki buku khusus menguraikan hal ini. Ibnu Taimiyah misalnya memiliki buku “Al-Ahkam as-Sulthaniyah” (hukumhukum terkait kekuasaan). Di dalamnya Ibnu Taimiyah menguraikan urgensi kepemimpinan: ”Penunjukkan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. Bahkan agama tidak akan tegak, begitu juga dunia tidak akan baik tanpa keberadaan pemimpin. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujud kecuali dengan menata kehidupan sosial, karena sebagian mereka memerlukan sebagian yang lain. Dalam konteks ini, kehidupan sosial tidak akan berjalan dengan baik dan teratur tanpa keberadaan seorang pemimpin”.
Terkait hal yang sama Imam Ghazali menegaskan, “Dunia adalah ladang akhirat, Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran. Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akan roboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dengan keberadaan penguasa”.
Inilah yang menjadi alasan kenapa pemimpin itu memiliki amanah lebih berat di banding lainnya. Semakin tinggi cakupan kepemimpinannya semakin berat amanahnya. Itu juga diperjelas dengan sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridlo’i Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”
Sayangnya di negeri ini amanah kepemimpinan dan jabatan diperebutkan secara massif. Tokoh dan pemimpin berlomba-lomba memperebutkan amanah itu. Masyarakat tidak memiliki jalan lain kecuali harus memilih mereka. Namun sebagai muslim tetap harus berprasangka baik kepada mereka bahwa itu dalam rangka kompetisi dalam kebaikan. Tugas kita adalah mengenal dan memiliki informasi watak, track record, moral, visi misi calon-calon pemimpin bangsa itu. Apakah watak dan moralnya diharapkan mampu mengemban amanah atau berpotensi menyimpang. Apakah visi dan misinya ingin menegakkan syariat Allah di bumi ini sehingga menjadi negeri makmur gemah ripah loh jinawi yang diberkahi Allah? Ataukah justru mempersempit ruang penerapan syariat Islam di segala bidang?
- Wallahu a’lam bishshowab -
Itu adalah kutipan yg aku ambil di beberapa artikel Salam persahabatan buat pengujung blogku. mencintai eseorang bukan karena dia peimimpin atau kekayaanya..tapi yg kita cintai adalah prilaku yg baik yg bisa menjadi suri tauladan buat orang banyak, aku di lahirkan di jakarta. aku tidak bisa menggunakan hak pilihku, karena tugas yg sedang ku emban, tapi demi jakarta tercinta ku luangkan waktu dari jauh di sebrang laut agar jakarta bisa mempunyai pemimipin yg baik jujur, bersi dan amanah. salam dari ku Ridwan Wasalam
Sang pelopor
Luar biasa apa yg di lakukan jokowi, dgn segala kesederhanaannya, bisa mengguncang politik di jakarta, gebrakan dan langka politik yg berlian. jokowi hanyalah seorang figure yg sederhana tapi kemanapun dia melangka selalu jadi perhatian media dan masyarakat selalu jadi topic tranding yg enak di bicarakan.Inilah yg membuat lawan lawan politik kepanasan dan gigit jari. karena hampir semua mata tertuju ke dia walaupun serang black campaign baik masalah yg berbau bau SARA dan hal hal lainnya. orang orang yg tidak senang dgn kepopuleran jokowi yg melesat bak meteor hanya dalam hitungan bulan sudah bisa menarik simpati warga jakarta lihat saja hasil survey yg di lakukan LSM dan Akademisi “
Beberapa kriteria ideal menurut masyarakat tentang Gubernur DKI Jakarta dijadikan acuan dalam studi kajian kali ini. Sebut saja, calon harus mempunyai integritas moral, ketegasan, dan komitmen.
Kemudian calon harus memiliki wawasan, visi dan misi, pengalaman, rekam jejak, serta kepemimpinan yang baik. Berdasarkan kriteria tersebut, bakal calon gubernur DKI Jakarta yang dinilai layak dan memiliki potensi memperbaiki Jakarta di masa mendatang adalah Joko Widodo (Jokowi) dengan nilai 17 persen. menduduki peringkat no 1.
Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hasan Nasbi mengatakan, apabila pemilukada DKI digelar hari ini maka pasangan Foke-Nachrowi mendapat suara terbanyak yakni 42,4 persen. Sedangkan posisi kedua ditempati oleh pasangan Joko Widodo-Basuki T.Purnama (Ahok) dengan raihan 31,8 persen atau terpaut 11 persen dari Foke-Nachrowi.
“Perolehan 42,4 persen ini adalah hasil kerja dan sosialisasi incumbent selama hampir lima tahun, dan jokowi meraih 31,8 hanya dalam waktu 5 bulan padahal kampanye saja belum di mulai. maka selisih angka sebesar 11 persen ini justru akan menjadi momok menakutkan bagi incumbent,” ujar Hasan.
Lihat saja hasil perolehan polling di Jak TV jokowi unggul di urutan pertama di susul oleh hidayat Nur wahid di peringkat ke dua. dan polling itu pun masi berjalan terus sampai saat ini.
mengapa kepercayaan masyarakat begitu tinggi sama beliau karena masyarakat merindukan pemimpin yg bersi dan mau mengayomi warganya. karena rekam jejak jokowi saat menjadi walikota sudah di buktikan Pak Jokowi sendiri berhasil memecahkan begitu banyak masalah di kota Solo tanpa merugikan banyak pihak, malah kebalikannya yang terjadi, Jokowi berhasil menyenangkan banyak pihak. Hal tersebut dapat terjadi karena Jokowi turun langsung ke titik permasalahan dan mengetahui permasalahan secara detil. Dengan datangnya seorang pemimpin langsung ke titik permasalahan, pemimpin tersebut dapat merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat.
Meski tidak sebagaimana pemimpin Muslim lainnya yang saat pidatokerap mengutip kitab suci meski prakteknya “biasa-biasa saja”, Jokowi dalam ibadah rutin pun seperti shalat bahkan justru lebih disiplin daripada kebanyakan politisi muslim lainya.
Jokowi: Pemimpin yang Humanis dan Berprestasi – Agar Indonesia makmur, butuh pemimpin yang amanah dan peduli pada rakyatnya.Salah satu pemimpin yang Amanah dan Peduli rakyatnya
Di antara indikator seseorang yang sukses dalam hidup adalah ketika dia mampu menjaga harkat dan martabat dirinya. Dan itu artinya ia cerdas mengelola amanah. Ia jujur dengan kata hatinya. Apa yang ada di hati ia ucapkan. Dan apa yang diucapkan, sudah ia pikirkan dan istiqamah untuk diamalkan. “Jika engkau miliki empat hal, engkau tidak akan rugi dalam urusan dunia: menjaga amanah, jujur dalam berkata, berakhlak baik, dan menjaga harga diri dalam (usaha, bekerja) mencari makan.” bayangkan jokowi sejak menjabat walikota solo dia tak perna mengambil uang gajinya, seluruh gaji di sedekakan kepada warga yg membutuhkan. gajinya memang tidak besar hanya 7/8 juta rupiah sebagai walikota solo. jika dia suatu saat nanti bisa menjadi gubernur itu wajar kenapa ” jika kita menyedekakan rizky kita maka alloh akan membalasnya 10 kali lipat. jika jokowi jadi gubernur dia akan bergaji 80 jutaan jadi alloh swt telah menanmbahkan gaji sebanyak 10 kali lipat.
Amanah itu menentukan nasib sebuah bangsa. Jika setiap orang menjalankan tugasnya dengan penuh amanah dan tanggung jawab maka selamatlah mereka. Sebaliknya jika diselewengkan maka hancurlah sebuah bangsa. Sehingga Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, “Bila amanah disiasiakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyianyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).
Sayangnya di negeri ini amanah kepemimpinan dan jabatan diperebutkan secara massif. Tokoh dan pemimpin berlomba-lomba memperebutkan amanah itu. Masyarakat tidak memiliki jalan lain kecuali harus memilih mereka. Namun sebagai muslim tetap harus berprasangka baik kepada mereka bahwa itu dalam rangka kompetisi dalam kebaikan. Tugas kita adalah mengenal dan memiliki informasi watak, track record, moral, visi misi calon-calon pemimpin bangsa itu. Apakah watak dan moralnya diharapkan mampu mengemban amanah atau berpotensi menyimpang. Apakah visi dan misinya
marilah kita berlomba mencari pemimpin dgn menunjukan prestasi prestasinya bukan saling menhujat. kita harus tinggalkan campanye campanye yg menyesatkan dan mengkambing hitamkan orang lain. ayo tunjukan prestasi mu..lihat lah prestasi yg telah di torekan oleh jokowi menjadi tinta emas dalam perjalanan karir politiknya wajar jika saat ini jokowi mendapat dukungan yg begitu luas dari kaum pelajar, mahasiswa dan intelektual. klik web ini Torehan prestasi jokowi
Jokowi adalah pelopor dan pembaharu dalam dunia politik. cara cara yg dilakukan dalam mencari dukungan benar benar dasyat. dan hampir belum perna terjadi di pemilihan tahun tahun yg lalu. dia bisa mengumpukan dana kampanye dgn cara menjual sehelai kemeja kotak kotak. dan tak menggunakan baliho dan memang sudah terbukti apa yg di programkan jokowi dan berhasil menarik simpati warga jakarta. lihat saja cara cara yg di lakukan jokowi menjadi contoh yg baik untuk merubah pola pikir yg baik dalam mencari dana campanye dan menarik simpati masyarakat. bahkan ide jokowi telah di ikuti oleh kandidat lain seperti pasangan Hidayat Nur wahid dan Didik. mereka mencoba menjual batik bermotip monas. dan juga ide jokowi telah di contek oleh pimpinan golkar/pak Ical pun sama menjual tas yg bergambar photonya. itulah jokowi cara berpikirnya adalah entrepreneurship.
dia adalah pelopor. dia fenomenal. cara berpikirnya berlian kekaguman ku dan simpati ku makanya kutulis artikel ini. aku orang jakarta asli ” mengenai baju koko sepertinya tidak ada sama sekali dia menjelekan orang betawi. cuma ini adalah akal akalan politik yg coba merusak reputasi beliau. tapi warga jakarta sudah pandai dan tak akan mungkin terjebak dgn SARA. ini adalah ujian buat jokowi sebelum dia menduduki DKI1. tapi ujian ini akan bisa beliau hadapi dgn mulus. karena bisa tercermin dari prilaku yg ada sama jokowi. marilah kita memilih pemimpin negeri ini, dgn mencari pemimpin yg di lihat dari prilaku dan tidak tanduknya. bukan karena kaya, ganteng atau bertitel tapi bermental koruptor.
Doaku untuk semua pemimpim pemimpin di negeri ini jadilah pemimpin yg AMANAH.
Torehan Prestasi
Bagi yg
belum mengenal pasangan dan ingin mengetahui siapa -Cagub dan Cawagub DKI yang
digadang-gadangkan oleh Partai PDIP dan Partai Gerinda, Joko Widodo dan Basuki
Tjahja Purnama atau yang lebih akrab di panggil Jokowi-Ahok, saat menjabat
Walikota Solo dan Bupati Belitung Timur, keduanya telah menorehkan prestasi
untuk daerah yang dipimpinnya. Berikut adalah prestasi yang pernah diraih
Jokowi-Ahok :
Jokowi :
Penghargaan
:
Penghargaan
Personal :
- 10 Tokoh di Tahun 2008 oleh Majalah Tempo
- Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Award
- Bung Hatta Anticorruption Award (2010)
- Charta Politica Award (2011)
- Wali Kota teladan dari Kementerian Dalam Negeri (2011)
Kota Solo di
Masa Kepemimpinan Jokowi:
- Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia
- Piala dan Piagam Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden Republik Indonesia (2009), untuk kinerja kota dalam penyediaan sarana Pelayanan Publik, Kebijakan Deregulasi, Penegakan Disiplin dan Pengembangan Manajemen Pelayanan
- Piala Citra Bidang Pelayanan Prima Tingkat Nasional oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia (2009)
- Penghargaan dari Departemen Keuangan berupa dana hibah sebesar 19,2 miliar untuk pelaksanaan pengelolaan keuangan yang baik (2009)
- Penghargaan Unicef untuk Program Perlindungan Anak (2006)
- Indonesia Tourism Award 2009 dalam Kategori Indonesia Best Destination dariDepartemen Kebudayaan dan Pariwisata RIbekerjasama dengan majalah SWA.
- Penghargaan Kota Solo sebagai inkubator bisnis dan teknologi (2010) dari Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI).
- Grand Award Layanan Publik Bidang Pendidikan (2009)
- 5 kali Anugerah Wahana Tata Nugraha (2006-2011) – Penghargaan Tata Tertib Lalu Lintas dan Angkutan Umum.
- Penghargaan Manggala Karya Bhakti Husada Arutala dari DepKes (2009).
- Kota Terfavorit Wisatawan 2010 dalam Indonesia Tourism Award 2010 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
- Pemerintah Kota Solo meraih penghargaan kota/kabupaten pengembang UMKM terbaik versi Universitas Negeri Sebelas Maret alias UNS SME’s Awards 2012.
- Penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu kota terbaik penyelenggara program pengembangan mewujudkan Kota Layak Anak (KLA) 2011.
- Penghargaan Langit Biru 2011 dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori Kota dengan kualitas udara terbersih.
- Penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam bidang Pelopor Inovasi Pelayanan Prima (2010).
B . Ahok
Penghargaan
:
- 2007, dinobatkan sebagai Tokoh Antikorupsi dari unsur penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, Kadin-Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara-Masyarakat Transparansi Indonesia.
- 2008, dinobatkan sebagai 10 Tokoh yang Mengubah Indonesia oleh Majalah Tempo.
Prestasi
khusus:
- Saat menjadi Bupati Belitung Timur, ia mengalihkan tunjangan jabatan pejabat untuk program pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis bagi warga.
- Ahok juga menata manajemen pemerintahan kabupaten yang transparan dan bersih dalam penggunaan anggaran negara.
- Saat menjadi wakil rakyat, dia termasuk tokoh yang berintegritas dalam hal menyuarakan aspirasi dan menjelaskan proses legislasi. Seluruh perkembangan diulasnya secara transparan dan dapat diakses publik melalui situs pribadinya.(Dedy Kusnaedi Djamdjuri)
Wajar jika
jokowi sesuai surver yg di lakukan oleh pakar UI mempunyai ranking polling
paling tinggi karena cara etos kerja sudah di akui oleh masyarakat, terkadang
politik memang kejam, dgn segala cara mereka gunahkan untuk menjungkalkan
saingan mereka. isu isu negatif di hembuskan agar bisa menjatuhkan lawan.
lihat saja
hasil kajian pakar UI “
“Survei yang
sempat beredar itu kan dibuat dari pasangan yang ada untuk mengecoh masyarakat.
Nah kami sebal dengan hal itu. Makanya kami buat studi kajian ini untuk
menetralkan hasil survei yang telah ada,” kata Hamdi saat Diskusi Riset Cagub
DKI Jakarta 2012, Perbandingan antara Publik dan Tokoh, di Wisma Kodel,
Jakarta, Selasa (17/4/2012).
Beberapa
kriteria ideal menurut masyarakat tentang Gubernur DKI Jakarta dijadikan acuan
dalam studi kajian kali ini. Sebut saja, calon harus mempunyai integritas
moral, ketegasan, dan komitmen.
Kemudian
calon harus memiliki wawasan, visi dan misi, pengalaman, rekam jejak, serta
kepemimpinan yang baik. Berdasarkan kriteria tersebut, bakal calon gubernur DKI
Jakarta yang dinilai layak dan memiliki potensi memperbaiki Jakarta di masa
mendatang adalah Joko Widodo (Jokowi) dengan nilai 17 persen.
Di bawahnya,
muncul nama dari jalur independen, yaitu Faisal Basri, sebanyak 16,5 persen;
dan petahana Fauzi Bowo berada pada peringkat ketiga dengan angka 14,2 persen.
“Kalangan
atas dan akademisi menilai Jokowi mampu dalam dimensi keterampilan politik,
keterampilan komunikasi politik, stabilitas emosi, gaya kepemimpinan,
penampilan fisik, integritas moral yang tinggi,” tandasnya.
Memang
Sungguh ironis jika survey hasil pesan, seperti pepesan ikan yg di order mau
minta berapa banyak. jika ikan itu masi tersisa akan jadi bangkai yg sangat bau
di kemudian hari, beruntung masi banyak di indonesia orang orang yg mau berbuat
jujur demi kebaikan masyarakat. itulah partai politik cara apapun halal bagi
mereka yg penting menang. untung aku pribadi bukan orang parta hanya sseorang
blogger yg mencintai semua pemimpin pemimpin yg bersi dan jujur, tidak koruktor
dan mencintai rakyatnya.
indonesia
harus berubah dan perubahan itu datangnya dari warganya sendiri jika kita ingin
merubah hari ini lakukan tindakan yg benar, pilihlah pemimpin yg mempunyai
track record dan rekam jejak yg jelas. renda hati, sederhana, jujur dan
merakyat. carilah pemimpin yg amanah. yg kita cintai adalah prilaku dari si
pemimpin. dan pemimpin itu yg kita butuhkan untuk merubah jakarta yg sudah
para. semoga pemimpin yg bersi dapat memenangkan PILKADA DKI.
Hati Hati “Manipulasi dlm Pilkada DKI”
semakin cepat penghitungan semakin baik, rakyat sudah gak sabar ingin segera tahu hasil final,itu yg selalu ada di pikiran masyarakat pada umumnya .untuk yang menang mari kita ucapkan selamat dan bagi yang kalah berjuanglah terus kesempatan lain masih ada. semakin berpihak pada rakyat semakin banyak pendukungnya. karena rakyatlah yang menentukan segalanya.dalam menentukan perhitungan hak suara ada kemungkinan Komisi pilkada DKI akan menggunakan sistem tabulasi elektronik dalam menghitung surat suara. Sistem tersebut dilakukan secara paralel dengan perhitungan secara manual.“Teknologi informasi akan mendukung pengumpulan data dengan cepat dan akurat,”dengan tingkat kesalahan dalam perhitungan tabulasi elekronik dengan perhitungan manual tidak akan jauh berbeda. tetapi ini harus mewaspadai terjadinya politik uang menjelang pemungutan suara, serta manipulasi penghitungan suara. Untuk mengantisipasi hal tersebut, para masing masing parpol harus mengoptimalkan kinerja saksi mereka petugas pengawas lapangan (PPL) agar dapat bekerja secara maksimal memantau jalan perhitungan suara. Kecurangan pemilu, terutama berkaitan dengan manipulasi penghitungan suara (vote-counting manipulation), marak terjadi, kasus-kasus rekayasa penghitungan beberapa dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu. Mahkamah Konstitusi juga menerima seabrek gugatan sengketa penghitungan suara pemilukada. Beberapa kasus manipulasi penghitungan dan rekapitulasi suara, dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, dinyatakan terbukti mengandung pelanggaran secara sistematis, terstruktur, dan masif.
Sengketa penghitungan suara terjadi karena peserta pemilu bekerja sama dengan penyelenggara pemilu melakukan manipulasi penghitungan suara, dari tempat pemungutan suara (TPS) hingga level lanjutan. terjadinya korupsi pemilu ini sering disebut sebagai wholesale vote-buying.di mana peserta “membeli” suara secara kulakan dari dari pihak lain agar bisa memenangkan perolehan suara.
Kerap terjadinya manipulasi penghitungan suara menunjukkan adanya permainan antara peserta pemilu dan penyelenggara pemilu. Korupsi pemilu yang demikian jelas mengubah hasil akhir dan mendustai pilihan pemilih serta mencederai integritas pemilu. suatu gambaran yg baru saja terjadi, dalam polling Calon Gubernur DKI 2012 di JakTV, dan kebetulan memang saya ikuti terus karena memang saya pasang dan masukan dalam blog saya. selama beberepa bulan saya ikuti terus perkembangan polling di JakTV dan yg membuat saya terkesima ketika saya membuka hasil perhitungan tiba tiba bisa berubah sangat cepat. sebelumnya berjalan normal.Hasil polling di jakTV kelihatannya sudah ada permainan politik, tadinya posisi para calon kandidat posisi cukup lama bertahan
1. jokowi sekitar 56,7%
2. Hidayat Nur Wahit sekita 24,3 %
3. Alek nurdin sekitar 6,2 %
4. Fauzi Bowo sekita 4,7 %
5. Faisal Basri sekitar 2,32 %
6. Hendardji Soepandji sekita 0,66%
Tidak tahu bagaimana hanya dalam hitungan jam bisa berubah draktis dan hampir tak bisa di percaya angka hitungan berubah , ini hanya anggapan yg sejenak saja sepertinya sudah ada permainan perhitungan suara vote Electronik yg enta bagaimana cara Vote tsb bisa berubah cepat. padahal sudah berapa bulan Vote itu berjalan Normal. dan sekarang posisi no 1 yg tadinya 56,7% menjadi no . 2 hasil polling terkhir 27.96% dan no.4 dari poling hanya 4,7 % menjadi no. 1 dgn polling saat ini sekitar 46,9%. melampui polling dari kandidat lainnya dgn lompatan yg sangat septakuler, kita positip thinking saja dan tak mau berburuk sangka dan kita ucapkan selamat buat pemenang polling ts, cuma ada pertanyaan besar ? kok bisa berubah dalam hitungan jam.!!
kejadian seperti di atas tak perlu kita ambil pusing karena itu hanya hasil polling yg bisa beruba ubah dan memang karena tak ada pengawasan. dari kejadian di atas bisa jadi bahan pembelajaran bagi kita betapa penting pengawasan di Pilkada nanti, bukan hanya DKI tetapi semua proyek yg berhubungan dgn pemilu. Karena itu, tidak ada peristiwa politik tanpa manipulasi! Dalam konteks pilkada atau pemilu semua elemen bisa dimanipulasi, mulai dari data kependudukan untuk proses pengajuan daftar calon sementara pemilih, daftar calon tetap pemilih, verifikasi partai politik di KPU, seleksi berkas calon anggota legislatif, penentuan calon anggota legislatif, pemalsuan ijasah, memoles wajah dalam foto untuk diobral di pinggir jalan, politik pencitraan, iklan politik, survei popularitas partai atau politisi, bahasa kampanye, sistem pemilu, sampai pada tahap penghitungan suara. Politik tanpa manipulasi laksana mobil yang melaju tanpa sopir, kalau tidak terguling pasti susah mencapai tujuan.
Hal ini disebabkan, karena semua orang yang berpolitik esensi dan tujuannya sama yaitu “bagaimana mencari, mendapatkan, mempertahankan dan memperluas kekuasaan.” Dalam proses mencari, mendapatkan, mempertahankan dan memperluas kekuasaan itulah dibutuhkan “kecerdasan memanipulasi”. Tidak ada gunanya dana banyak, kemampuan menguasai informasi (memanfaatkan media massa), kemampuan membangun jaringan-jaringan ke beberapa komunitas berpengaruh dalam masyarakat, kalau tidak memiliki kecerdasan memanipulasi.
Dalam konteks politik, yang dimaksud kecerdasan memanipulasi adalah bagaimana melakukan manipulasi secara sistematis dan sangat rapi sehingga tidak bisa terdeteksi oleh orang lain (lawan politik). Kecerdasan ini sangat penting, karena dalam sistem demokrasi semua orang atau kelompok kepentingan bebas menciptakan akses untuk mencari data-data yang diinginkan. Kalau tidak cerdas memanipulasi, maka akan berbalik arah memakan aktornya.
Itulah salah satu efek demokrasi yang menempatkan kebebasan sebagai elemen utamanya. Semua orang yang terlibat dalam proses pemilu bebas menafsirkan kebebasan itu sendiri, termasuk menafsirkan kebebasan menggunakan segala macam cara untuk memanipulasi kemenangannya. Padahal yang dimaksud kebebasan dalam demokrasi adalah bebas melakukan partisipasi politik dengan tetap berpedoman pada aturan sesuai dengan konstitusi, bukan bebas memanipulasi.
di sinilah peran masyarakat dan media masa harus dioptimalkan secara proporsional agar pilkada ini bisa sukses,” media mempunyai kekuatan untuk membentuk opini publik. Pilkada harus bisa tersosialisasikan dengan baik di seluruh masyarakat. Melalui pemberitaan yang seimbang dan obyektif masyarakat akan lebih mudah mencerna makna dari pilkada.
Sukses pilkada, bukan hanya untuk mengantarkan salah satu pasangan calon. Namun juga sukses keikutsertaan masyarakat dalam memberikan hak suaranya. Partisipasi masyarakat yang tinggi menjadi salah satu indicator pilkada sukses.
“Pilkada bukan hanya kontek demokratis, tetapi juga untuk mensejahterakan masyarakat,” semoga pilkada yg akan berlangsung di DKI bisa berjalan sesuai keinginan yg bersi dan jujur dan pada akhirnya bisa memiliki pemimpin yg baik dari perolehan suara yg baik, yg bersi dan yg jujur.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda